Selasa, 19 April 2011

proposal penelitian



 
BAB I
PENDAHULUAN
A.       Judul Penelitian
Hubungan Penerapan Pendekatan Kontekstual dengan Daya Serap dalam Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Pada Siswa Kelas VII Sekolah Mengengah Pertama Negeri 1 Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya.
B.       Latar Belakang
Pendidikan hendaknya melihat jauh kedepan dan memikirkan apa yang akan dihadapi peserta didik dimasa yang akan datang. Menurut Buchori dalam Khabibah (2006:1), bahwa “Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan para siswanya untuk sesuatu profesi atau jabatan, tetapi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapainya dalam kehidupan sehari-hari”.
Text Box: 1Salah satu masalah pokok dalam pembelajaran pada pendidikan formal (sekolah) dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik. Hal ini Nampak dari realita hasil belajar peserta didik yang senantiasa masih sangat memprihatinkan. Hal ini tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan tidak menyentuh ranah dimensi peserta didik itu sendiri, yaitu bagaimana sebenarnya belajar itu (belajar untuk belajar) dalam arti yang lebih substansial, bahwa proses pembelajaran hingga dewasa ini masih memberikan dominasi guru dan tidak memberikan akses bagi anak didik untuk berkembang secara mandiri melalui penemuan dan proses berpikirnya.
Untuk membantu siswa memahami konsep-konsep dan memudahkan guru-guru dalam mengajarkan konsep-konsep tersebut diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang langsung mengaitkan materi konteks pelajaran dengan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan pembelajaran tersebut adalah pembelajaran kontekstual. Belajar lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Sejalan dengan itu Wina Sanjaya (2005:109) menyatakan bahwa: “Pendekatan pembelajaran kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang perlu dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka”.

Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus kita pahami, pertama CTL menekankan kepada materi, artinya proses belajar di orientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
Kedua, CTL mendorong agar siswa cepat menemukan hubungan antara meteri yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar disekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengkorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan bermakna secara fungsional akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam konteks CTL bukan untuk ditujukan di otak dan kemudian dilupakan, akan tetapi sebagai bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas, lebih tegas Blanchard (2001:10) mengatakan:
Contectual Teaching and Learning (CTL) merupakan suata konsepsi yang membantu guru menghubungkan konteks materi ajar dengan situasi-situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya ke dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara dan tenaga kerja. Dengan kata lain, CTL adalah pembelajaran yang terjadi dalam hubungan erat dengan pengalaman sebenarnya”.

Pendekatan CTL membantu guru mengaitkan antara meteri yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna dan dapat meningkatkan daya serap siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa, strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Penerapan pendekatan kontekstual ini mengasumsikan bahwa secara natural pikiran mencari makna konteks sesuai dengan situasi nyata lingkungan seseorang dan itu dapat terjadi melalui pencarian hubungan yang masuk akal dan bermanfaat. Penandaan materi pembelajaran dengan konteks keseharian siswa di dalam pembelajaran kontekstual akan menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang mendalam dimana siswa kaya akan pemahaman masalah dan cara menyelesaikannya. Siswa mampu secara independent menggunakan pengetahuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah baru dan belum pernah dihadapi, serta memiliki tanggung jawab yang lebih terhadap belajarnya seiring dengan peningkatan pengalaman dan pengetahuan mereka.
Pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang mengakui dan menunjukkan kondisi alamiah dari pengetahuan. Melalui hubungan di dalam dan di luar kelas suatu pendekatan pembelajaran kontekstual menjadikan pengalaman lebih relevan dan berarti bagi siswa dalam membangun pengetahuan yang akan mereka terapkan dalam pembelajaran seumur hidup.
Dari uraian tersebut dapatlah ditegaskan bahwa pembelajaran kontekstual sangat diperlukan dalam proses pembelajaran di sekolah. Dasar pemikiran ini di ilhami oleh suatu konsepsi bahwa siswa belajar harus dikembalikan kepada suatu asumsi bahwa siswa akan belajar dengan baik bilamana lingkungan belajar diciptakan secara alamiah dan belajar akan berhasil apabila siswa mengalami bukan mengetahui. Yang dimaksud siswa mengalami dalam hal ini yaitu bahwa siswa benar-benar melakukan apa yang dikehendaki dalam proses pembelajaran tersebut. Proses belajar berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa mengalami sendiri, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi.
Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerjasama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa yang dikatakan guru. Begitulah peran guru dikelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.
Berdasarkan hasil pra survey di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya bahwa kemampuan sekolah, kemampuan dan profesionalisme pendidik serta lingkungan sosial yang kondusif untuk penerapan pendekatan kontekstual (CTL) masih dirasakan kurang dalam waktu dekat memberikan kontribusi positif dalam penerapan pendekatan kontekstual ini. Namun, bagaimanapun situasi kondisinya ini perlu mendapat apresiasi positif dengan berusaha memahami dari diri kita untuk berusaha melakukan yang terbaik.
Sehubungan dengan uraian-uraian diatas, maka penulis merasa tertarik untuk meneliti tentang “Hubungan Penerapan Pendekatan Kontekstual dengan Daya Serap dalam Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Pada Siswa Kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya”.
C.      Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi masalah umum dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Hubungan Penerapan Pendekatan Kontekstual dengan Daya Serap dalam Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Pada Siswa Kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya”.
Masalah yang masih bersifat umum diatas perlu dibatasi dalam rumusan sub masalah sebagai berikut:
1.        Bagaimanakah penerapan pendekatan kontekstual dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya ?
2.        Bagaimanakah daya serap dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya ?
3.        Apakah terdapat hubungan penerapan pendekatan kontekstual dengan daya serap dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya ?

D.      Tujuan Penelitian
Sesuai dengan masalah dan sub masalah yang telah dirumuskan, maka tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi dan data secara objektif tentang “Hubungan Penerapan Pendekatan Kontekstual dengan Daya Serap dalam Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Pada Siswa Kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya”.
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kejelasan secara objektif mengenai:
1.        Penerapan pendekatan kontekstual dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya.
2.        Daya serap dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya.
3.        Hubungan penerapan pendekatan kontekstual dengan daya serap dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya.

E.       Manfaat Penelitian
1.        Manfaat Teoritis
a.       Memberikan informasi tentang penerapan teori-teori pembelajaran yang berkaitan dengan pendekatan kontekstual dalam proses pembelajaran.
b.      Memberikan gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi dalam penerapan pendekatan kontekstual dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.


2.        Manfaat Praktis
a.       Bagi Siswa
1)      Memberikan kesempatan seoptimal mungkin kepada siswa untuk belajar sendiri dari lingkungannya.
2)      Memberikan motivasi kepada siswa dalam mengembangkan hasil belajar dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan baik di sekolah, rumah dan lingkungan masyarakat serta  dapat menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata.
3)      Menumbuhkan keaktifan, daya pikir kritis, ilmu pengetahuan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.
4)      Sebagai upaya untuk meningkatkan minat belajar siswa dalam konsep pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan siswa diharapkan dapat menemukan konsep sendiri.
b.      Bagi Guru Pendidikan Kewarganegaraan
1)      Sebagai perbandingan untuk memilih strategi pembelajaran kontekstual yang baik dan tepat dibandingkan dengan pembelajaran lain.
2)      Meningkatkan kinerja guru dalam pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan .
3)      Meningkatkan kualitas mengajar guru.
4)      Menambah wawasan pengetahuan dalam mengembangkan bakat dan minat serta kemampuan mengajar guru.
c.       Bagi Kepala Sekolah
1)      Memperoleh informasi yang konkrit berkaitan dengan perubahan proses pembelajaran oleh guru.
2)      Sebagai bahan pembanding dalam melakukan pembinaan guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran pada keseluruhan mata pelajaran.
d.      Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan keilmuan dalam disiplin Ilmu Pengetahuan Sosial pada umumnya dan Pendidikan Kewarganegaraan pada khususnya.

F.       Hipotesis Penelitian
Untuk menjawab suatu penelitian diperlukan suatu jawaban sementara. Menurut Suharsimi Arikunto (1986:67) menyatakan bahwa: “Hipotesis adalah jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampel yang terbukti melalui data yang terkumpul”. Sedangkan menurut Sumardi Suryabrata (2000:69) menyatakan bahwa: “Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang masih perlu di uji secara empiris”.
Dari pendapat kedua pakar diatas, dapat disimpulkan bahwa hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap penelitian sampel yang sebenarnya yang terbukti melalui data yang terkumpul dan masih harus di uji secara empiris. Lebih lanjut hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1.        Hipotesis Nol (Ho)
Tidak terdapat adanya hubungan yang signifikan penerapan pendekatan kontekstual dengan daya serap dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya.
2.        Hipotesis Alternatif (Ha)
Terdapat hubungan yang signifikan penerapan pendekatan kontekstual dengan daya serap dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya.

G.      Ruang Lingkup Penelitian
Dalam suatu penelitian ilmiah diperlukan adanya kejelasan ruang lingkup penelitian yang mana dibutuhkan untuk memperjelas data-data penelitian yang akan dilaksanakan. Dalam ruang lingkup penelitian ini, pembahasan dibagi dua yaitu variabel penelitian dan definisi operasional.
1.        Variabel Penelitian
Variabel penelitian dapat diartikan sebagai suatu yang menjadi objek atau subjek yang menjadi perhatian atau pengamatan penelitian. Variabel penelitian dapat berupa benda, hewan, manusia, gejala-gejala dan sebagainya. Sejalan dengan hal ini Suharsimi Arikunto (1999:19) menyatakan bahwa: “Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian pengamatan dalam suatu penelitian”. Sedangkan menurut Sutrisno Hadi (1990:260) menyatakan bahwa: “Variabel penelitian adalah gejala-gejala yang menunjukan variasi baik dalam jenisnya, maupun dalam tingkatannya”. Selanjutnya menurut Kaliger (1978:86) mengatakan: “It is possible by definition for variabel to have only one valued. It is the called a constant. We deal almost exclusively whit variables that have two or more values”. Artinya, definisi dari variabel adalah sesuatu yang bersifat menetap.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa variabel adalah gejala-gejala yang menjadi titik sasaran pengamatan dalam suatu penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel penelitian adalah “Hubungan Penerapan Pendekatan Kontekstual dengan Daya Serap dalam Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Pada Siswa Kelas VII Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya”. Dengan aspek-aspek sebagai berikut:
a.       Variabel Bebas
Aspek pertama dari variabel penelitian yang akan dipaparkan dalam penelitian ini adalah variabel bebas. Dimana menurut Sugiono (2006:61), “Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi penyebab berubahnya atau timbulnya variabel terikat”. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah “Penerapan Pendekatan Kontekstual”, yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
1)        Langkah-langkah penerapan pendekatan kontekstual, dengan indikatornya:
a)      Mengaktifkan siswa dalam proses belajar
b)      Melakukan transfer belajar
c)      Mewujudkan siswa sebagai pembelajar
d)     Pentingnya lingkungan belajar.
2)        Komponen penerapan pembelajaran kontekstual, dengan indikatornya:
a)      Bertanya (questioning)
b)      Menemukan (inquiri)
c)      Masyarakat belajar  (learning community)
d)     Pemodelan (modeling)
e)      Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment).
b.      Variabel Terikat
Aspek selanjutnya dalam variabel penelitian ini ialah variabel terikat, dimana variabel terikat menurut Sugiono (2006:61) adalah “Variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat adanya variabel bebas”. Adapun yang menjadi variabel terikat dalam penelitian ini adalah “Daya Serap”, yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
1)      Pengertian daya serap
2)      Kemampuan berpikir
3)      Kemampuan memahami
4)      Kemampuan aktivitas siswa dalam belajar
5)      Pengertian evaluasi
6)      Tujuan dan fungsi evaluasi.

2.       Definisi Operasional
Definisi operasional bertujuan untuk mempermudah serta menjelaskan aspek-aspek yang ada dalam variabel penelitian. Adapun aspek-aspek yang dijelaskan sebagai landasan operasional sebagai berikut:
a.           Kontekstual
Menurut A. Chaedar Alwasilah (2009:57), bahwa Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah:
Sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. CTL adalah suatu sistem pengajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa.

Sedangkan menurut Tim Pustaka Yustisia (2007), pengertian CTL adalah:
1)      Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya, dengan mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial , dan cultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan atau keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan atau konteks lainnya.
2)      Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara meteri yang dipelajarinya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pembelajar membuat hubungan antara kehidupan materi yang diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Jadi, yang dimaksud kontekstual dalam penelitian ini adalah sebuah sistem mengajar yang didasarkan pada pikiran bahwa makna muncul dari hubungan antara isi dan konteksnya.
b.         Daya Serap Siswa
Yang dimaksud daya serap dalam penelitian ini adalah kemampuan menerima dan menguasai pelajaran yang diberikan oleh guru. Aplikasi daya serap ini dapat diketahui melalui kegiatan evaluasi, yaitu yang dinyatakan dengan hasil belajar yang dicapai oleh siswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar